Salah satu gerbang utama agar perempuan mencapai prestasi puncak dalam keberhasilan ekonomi adalah pendidikan tinggi. Dengan pendidikan yang tinggi, maka jaminan akan kesejahteraan hidup perempuan akan semakin tinggi pula, karena perempuan yang berpendidikan rendah akan terbatas kemampuannya untuk bertahan hidup apalagi mencapai kesejahteraan. Untuk itulah UNESCO mendeklarasikan misi peningkatan peran perempuan di level pendidikan tinggi (promoting role of women in higher education) yang berlangsung sejak 1998, sebagai bagian dari visinya dalam World Conference on Higher Education dalam menghadapi abad ke-21.[1] Bahkan UNESCO sendiri secara massif meluncurkan strategi pengarusutamaan gender (Gender Mainstreaming) sebagai strategi jangka menengah UNESCO dari 2002-2007 hingga 2008-2013.[2] Rangkaian program dari UNESCO ini tidak hanya bicara bagaimana meningkatkan akses perempuan terhadap pendidikan tinggi, tetapi juga bagaimana melibatkan perempuan dalam manajemen pendidikan tinggi sampai pada level pembuat kebijakan.
Perempuan terpelajar adalah perempuan dengan tingkat pendidikan mencapai perguruan tinggi. Atau secara demografi, perempuan terpelajar adalah populasi perempuan dengan usia 19 tahun ke atas yang memperoleh kesempatan menempuh pendidikan tinggi dari jenjang D-3 sampai dengan S-3. Namun disayangkan, Angka partisipasi kasar (APK) perempuan ke pendidikan tinggi tahun 2003 masih 10,14 persen dan pada tahun 2008 baru mancapai sekitar 14,58 persen. [3] Kenaikan yang belum signifikan, karena pembandingnya adalah puluhan juta jiwa perempuan Indonesia dengan range usia masuk perguruan tinggi.
Padahal di abad informasi ini, kalangan perempuan terpelajar dianggap mewakili komunitas yang paling signifikan perannya dalam perubahan sosial. Komunitas yang disebut oleh Hermawan Kartajaya sebagai Youth-Women-Netizen yaitu mereka yang muda (Youth), kaum perempuan (Women), dan pengguna internet (Netizen). Mereka ini mewakili era new wave culture, yaitu era interaksi horizontal akibat globalisasi teknologi informasi yang kian massif. [4]
Muda, cerdas, dinamis dan berwawasan luas itulah kira-kira karakter perempuan terpelajar saat ini. Mereka adalah segmen yang diklaim paling ideal oleh banyak kalangan, apalagi di mata kaum feminis. Seruan kemajuan dan profesionalisme yang seolah bisa dipenuhi oleh kalangan perempuan terpelajar ini akhirnya membuat mereka sering dianggap mewakili simbol emansipasi, modernitas dan produktivitas kaum perempuan. Namun betulkah demikian? Betulkah realitas perempuan terpelajar adalah mereka yang paling mampu meraih kesuksesan? Betulkan mereka dinilai paling bisa berkontribusi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara?
INTELEKTUAL MUSLIMAH DALAM DUA BAHAYA
Ukuran-ukuran kemajuan seperti besarnya keterwakilan politik perempuan di lembaga legislatif, besarnya partisipasinya di ranah publik, besarnya partisipasi perempuan-perempuan dalam pendidikan tinggi (perempuan terpelajar), besarnya keterlibatan perempuan di ranah decision making / pengambilan kebijakan, atau perempuan yang sukses berkarir/berbisnis, adalah ukuran-ukuran yang akhirnya dijadikan standar keberhasilan perjuangan dalam memajukan dan menyejahterakan perempuan. Serangkaian kebijakan pun lalu dibuat dengan harapan memajukan dan menyejahterakan perempuan, meski tanpa disadari serangkaian kebijakan lainnya berkebalikan dan justru membawa kepada ketidakmuliaan perempuan.
Ironisnya, rangkaian kebijakan ini bukan hanya gagal dalam memajukan perempuan juga membawa perempuan pada setidaknya dua bahaya besar; yaitu (1) disorientasi perannya sebagai ibu dan pilar utama keluarga, (2) eksploitasi ilmu dan keahliannya untuk kepentingan industri kapitalistik.
Untuk bahaya yang pertama, bisa kita lihat dari kemajuan semu yang diklaim oleh gerakan perempuan dalam memperjuangkan kesetaraan gender (gender equality). Alih-alih maju, justru malah membawa perempuan semakin terpuruk dalam kubangan persoalan. Runtuhnya struktur keluarga, meningkatnya angka perceraian, merebaknya free seks, meningkatnya kasus-kasus aborsi, dilema perempuan kariri, eksploitasi perempuan, pelecehan seksual, anak-anak bermasalah dan lain-lain ditengarai kuat menjadi efek langsung dari gagasan kebebasan perempuan. Hal ini terjadi karena kesalahan cara pandang terhadap perempuan serta kesalahan dalam menarik akar masalah perempuan sehingga mengakibatkan kian rancunya relasi dan pembagian peran diantara laki-laki dan perempuan.
Pengarusutamaan gender (gender mainstreaming) misalnya, boleh jadi menjadi jalan keluar persoalan ekonomi dan kesejahteraan perempuan, namun di saat yang sama akan memberi dampak yang lebih membuat perempuan, keluarga dan masyarakat di ambang keruntuhan akibat ancaman keamanan dan kehormatan seperti pelecehan, kekerasan, eksploitasi, dan dampak-dampak lain seperti terlalaikannya peran keibuannya (sebagai pendidik generasi), ketidakharmonisan relasi suami-istri, hingga perceraian akibat perempuan terlalu disibukkan oleh aktivitas mengais kue-kue ekonomi. Apalah artinya kesuksesan kaum perempuan di ranah ekonomi jika di saat yang sama anak-anaknya di rumah dibiarkan terbengkalai karena absen dari kasih sayang dan perhatian ibunya. Lebih jauh lagi, apalah untungnya kaum perempuan banyak berkiprah di luar rumah jika pada akhirnya harus berujung pada retaknya bangunan keluarga?
Bahaya yang kedua juga tidak kalah destruktifnya, bahkan menimbulkan multiplier effect. Bahaya ini datang dari penerapan sistem pendidikan yang kapitalistik. Sistem pendidikan seperti ini cuma menjadikan pendidikan layaknya barang dagangan atau komoditas, karena sangat beraroma kepentingan pasar. Kebijakan otonomi kampus, misalnya, sejatinya hanya penegasan belaka atas kenyataan bahwa pendidikan tinggi di Indonesia telah berkembang menjadi industri. Di negara-negara kapitalis besar, seperti AS, Kanada, Inggris, atau Australia, pendidikan tinggi memang merupakan lahan industri strategis yang menjadi bagian dari dan berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi negara bersangkutan.
Di negara-negara itu, industri pendidikan tinggi tumbuh pesat seperti industri jasa dan perdagangan yang lain. Lihat sentra-sentra industri pendidikan tinggi dunia yang sungguh memikat, seperti Boston, New York, California; Toronto, British Columbia; London, Manchester, Cambridge; atau Sydney, Melbourne, Canberra. Perkembangan industri pendidikan tinggi menuju komersialisasi pun tak terbendung, ditandai proses kapitalisasi ilmu pengetahuan terutama ketika pertumbuhan ekonomi digerakkan iptek—knowledge-and technology-driven economic growth. Sehingga wajar, lembaga perdagangan dunia yakni WTO pun kemudian menetapkan pendidikan sebagai salah satu industri sektor tersier [5].
Komersialisasi pendidikan tinggi umumnya didorong tiga motif utama. Pertama, hasrat mencari uang dan dukungan finansial serta keinginan menggali sumber-sumber pembiayaan alternatif, yang ditempuh melalui apa yang di kalangan universitas Amerika/ Eropa disebut an offer of generous research funding in exchange for exclusive patent licensing rights. Kedua, peluang mengembangkan (baca: menjual) program pendidikan jarak jauh untuk memperoleh keuntungan finansial sebagaimana yang sudah lazim dilakukan di perguruan tinggi di Indonesia. Ketiga, mendapatkan aneka kontrak yang menguntungkan dengan perusahaan/industri melalui pemberian dana, fasilitas, dan peralatan.
Akibatnya yang terjadi adalah berkembangnya pragmatisme dalam dunia pendidikan, yang tercermin dari tujuan pendidikan yang terlampau mengedepankan materi. Jauh dari tujuan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan memperbaiki kualitas kepribadian. Fenomena industrialisasi pendidikan tinggi yang mengarah ke komersialisasi ini mengandung bahaya bagi perguruan tinggi bersangkutan. Derek Bok dalam Universities in the Marketplace: The Commercialization of Higher Education (2005) mencatat sejumlah bahaya yang patut diwaspadai dari komersialisasi pendidikan tinggi;
1. perguruan tinggi akan tergiring melupakan misi suci (sacred mission) yang harus diemban, yakni melahirkan insan-insan terdidik dan berkeahlian, yang menjadi basis bagi ikhtiar membangun masyarakat beradab dan pilar utama upaya pencapaian kemajuan bangsa;
2. perguruan tinggi juga akan cenderung mengabaikan fungsi utama sebagai lembaga produsen ilmu pengetahuan, pelopor inovasi teknologi, serta pusat eksperimentasi dan observatorium bagi penemuan-penemuan baru yang penting dalam membangun peradaban umat manusia;
3. perguruan tinggi berpotensi mengorbankan core academic values karena perguruan tinggi cenderung berkompromi antara pilihan menjaga standar mutu program akademik dan tuntutan mendapatkan dukungan finansial dari perusahaan/industri.
Pada tingkat lanjut, dampaknya adalah kehancuran peran intelektual terpelajar dan jatuhnya kedudukan mereka sekedar sebagai agen ekonomi dan buruh murah yang memperkuat bercokolnya para kapitalis. Kapitalisme telah menjatuhkan ilmu pengetahuan dan para pemilik ilmu pengetahuan pada derajat budak-budak mereka. Ilmu dan profesionalitas mereka dibajak untuk melegitimasi sepak terjang para kapitalis dalam merampok kekayaan alam negeri ini. Undang-undang (UU) Penanaman Modal, UU migas, UU ketenagalistrikan, UU sumber daya air, semua itu adalah hasil karya para intelektual pesanan para kapitalis yang sangat menyengsarakan rakyat. Kalangan Intelektual dalam sistem kapitalistik juga ditelikung untuk menjadi pemadam kebakaran dari masalah yang terus menerus diproduksi para kapitalis. Mereka diminta untuk mereklamasi lahan bekas tambang, menemukan tanaman yang tahan terhadap pencemaran, menemukan teknik bioenergi terbaik dan berbagai teknologi yang semua itu dalam rangka menghapus dosa-dosa para kapitalis dari berbagai kerusakan yang mereka perbuat.
Semua peran ini banyak dijalankan oleh kalangan terpelajar tanpa sebuah kesadaran. Karena dikemas cantik dengan slogan dan iming-iming kesuksesan, kesejahteraan dan modernitas. Hal ini pun melanda perempuan terpelajar, apalagi dalam paradigma kapitalistik, perempuan juga dianggap sebagai aset ekonomi sehingga selaras dengan kebijakan liberalisasi pendidikan tinggi. Maka tak heran jika UNESCO secara intensif menggalakkan program pelibatan perempuan dalam jajaran struktural institusi perguruan tinggi, agar bisa menjadi pelaku langsung di dunia industri tersier. Program gender mainstreaming UNESCO di pendidikan tinggi ini meliputi :
a) Akses yang lebih besar bagi perempuan dalam berbagai bidang melalui tindakan afirmatif (kursi lebih dicadangkan untuk perempuan) atau melalui lembaga / universitas khusus perempuan dan;
b) Partisipasi perempuan yang lebih besar dalam pendidikan sains dan teknologi;
c) Pemeliharaan dan pengembangan studi tentang perempuan; dan
d) Perwakilan perempuan di posisi manajerial dalam pendidikan tinggi. [6]
Walhasil, dua bahaya ini akan selalu membayangi kehidupan perempuan terpelajar. Mereka akan terus menerus berada di bawah dilema antara tekanan profesionalitasnya dengan dedikasi keilmuan yang dimilikinya, demikian juga dilema antara tuntutan kesejahteraan dan peran kodratinya sebagai perempuan.
KOMPARASI PROFIL INTELEKTUAL BENTUKAN BARAT DENGAN ISLAM
Mari kita melihat sedikit ilustrasi yang membandingkan antara profil intelektual bentukan Barat dengan Islam. Oxford dan Cambridge adalah simbol penting pendidikan di Inggris. Oxbridge, begitu biasa disingkat-- jadi pusat riset ilmu dan teknologi yang menyangga peradaban Inggris dari abad ke abad. Banyak peraih penghargaan Nobel beralmamater di kedua kota ini. Namanya juga sangat bergengsi.
Madinah merupakan kota pendidikan yang lebih dahsyat dari Oxford dan Cambridge. Bukan karena fasilitasnya, tetapi karena pendidikan di Madinah menghasilkan peradaban ilmu yang menyatukan iman, ilmu, amal, dan jihad.
Di Oxbridge seorang profesor bisa sangat pakar dalam ilmu fisika atau filsafat etika, pada saat yang sama dia bisa saja seorang homoseks, alcoholic, dan meremehkan gereja. Dia akan tetap dihormati karena penguasaan pengetahuannya. Di Madinah, jika seorang ilmuwan memisahkan "aqidah, akhlaq dengan ilmu yang dikuasainya, kealimannya batal. Seorang yang menjadi salah satu simpul sanad bagi sebuah hadits, jika dia ketahuan berdusta sekali saja, namanya akan tercatat sampai akhir zaman di kitab musthalahal hadits sebagai kadzab (pendusta) yang riwayatnya tidak valid. Apalagi kalau dia sampai meninggalkan shalat dan bermaksiat.
Tradisi keilmuan Islam kaya dengan contoh-contoh ulama yang sangat tinggi ilmunya dan sekaligus orang-orang yang memiliki tingkat ketaqwaan yang tinggi. Imam al-Syafii, Imam Ahmad, Imam Malik, Imam Hanafi, al-Ghazali, Ibn Taymiyah, dan sebagainya adalah contoh-contoh ulama yang hingga kini menjadi teladan kaum Muslim. Dalam sistem sosial Islam, tidak ada kesempatan bagi seorang yang berilmu tinggi tetapi tidak menjalankan ilmunya. Sebab, ia akan dicap tidak adil, fasik, dan secara otomatis akan tersisih dari tata sosial Islam, karena ditolak kesaksiannya dan pemberitaannya diragukan.
Dalam sejarahnya, Oxbridge mengalami beberapa ketegangan dengan gereja, isunya beragam, tapi dasarnya sama: yaitu jika pengembangan ilmunya dianggap bertentangan dengan doktrin Kristen. Ketegangan itu baru reda setelah "gereja tahu diri" dan membatasi perannya di altar dan mimbar khotbah saja, tidak merambah ke ilmu pengetahuan. Gereja terpaksa mensekulerkan dirinya agar tidak seratus persen di buang dari masyarakat Oxbridge, bahkan lebih luas lagi dari masyarakat Barat. Inilah awal dari fenomena maraknya fenomena “spesialisasi sempit” di kalangan intelektual saat ini, yang membutakan ilmuwan dari khazanah keilmuan bidang-bidang lain.
Sebaliknya, Madinah, Damaskus, dan Baghdad bersuka cita memetik butir-butir mutiara sains yang diberikan Al-Qur'an dan As-Sunnah. Berbagai cabang baru ilmu pengetahuan (new branches of knowledge) di bidang astronomi, fisika, kedokteran, biologi, matematika, ekonomi, sastra, teknologi perang, sampai filsafat dijabarkan terus tanpa henti oleh para ulama. Prof. Wan Mohd Nor menulis, bahwa tradisi keilmuan dalam Islam tidak mengenal sifat “spesialisasi buta” seperti ini. Ilmuwan-ilmuwan Islam dulu dikenal luas memiliki penguasaan di berbagai bidang.
Mereka hafal Al-Qur'an, hafal ribuan hadits, beribadah, berinfaq, dan berjihad seperti para shahabat, pada saat yang sama mereka mengembangkan ilmu-ilmu baru dari semua yang diimani dan diamalkan itu. Salah satu ciri yang dapat diperhatikan pada para tokoh ilmuwan Islam ialah mereka tidak sekedar dapat menguasai ilmu tersebut pada usia yang muda, tetapi dalam masa yang singkat dapat menguasai beberapa bidang ilmu secara bersamaan.
Ibnu Sina (980-1037) dikenal juga sebagai Avicenna di Dunia Barat adalah seorang filsuf, ilmuwan, dan juga dokter kelahiran Persia (sekarang sudah menjadi bagian Uzbekistan). Ia juga seorang penulis yang produktif dimana sebagian besar karyanya adalah tentang filosofi dan pengobatan. Ibnu Khaldun, seorang sejarawan muslim dari Tunisia dan sering disebut sebagai bapak pendiri ilmu historiografi, sosiologi dan ekonomi. Karyanya yang terkenal adalah Muqaddimah (Pendahuluan). Dia juga dikenal sebagai Bapak Ekonomi, Ibnu Khaldun sering disebut sebagai raksasa intelektual paling terkemuka di dunia. Ia bukan saja Bapak sosiologi tetapi juga Bapak ilmu Ekonomi, karena banyak teori ekonominya yang jauh mendahului Adam Smith dan Ricardo. Artinya, ia lebih dari tiga abad mendahului para pemikir Barat modern tersebut.
Ya, begitulah ciri khas dari profil intelektual muslim sejati, semakin tinggi keilmuannya semakin pula ia takut pada Rabb-nya, semakin tinggi ilmunya semakin luas penguasaan bidang ilmunya dengan tidak membatasi diri hanya pada 1 bidang saja, semakin tinggi ilmunya maka semakin tinggi pula semangat juangnya untuk melawan ketidakadilan, semakin tinggi ilmunya semakin ia peduli dengan persoalan umat tidak sibuk hanya mengejar target akademik demi kesejahteraan pribadi. Subhanallah itulah profil intelektual muslim sejati.
REPOSISI PERAN INTELEKTUAL MUSLIMAH
Islam meletakkan para intelektual dalam posisi terhormat sebagai pendidik umat dan sekaligus pelindung mereka dari berbagai kepentingan yang hendak menghancurkan umat. Dengan pengetahuan mereka yang mendalam akan berbagai fakta yang terjadi, intelektual adalah pihak yang seharusnya paling peka terhadap perkembangan kondisi umat.
Sebenarnya, jumlah total pakar di Indonesia dari berbagai disiplin ilmu, bukan hanya ribuan, melainkan jutaan, sebanding dengan jutaan permasalahan yang dihadapi oleh umat dewasa ini. Mulai dari problematika yang bersifat ideologis, politis, ekonomis, sosial dan kultur budaya. Sayangnya, semua problematika tersebut tidak secara tuntas dapat teratasi oleh para pakar yang fitrahnya seharusnya berkompeten mengatasi problematika tersebut. Sebaliknya secara faktual, lahirnya para pakar ternyata malah melahirkan masalah baru. Mulai dari penipuan, korupsi, pengangguran, pemborosan uang negara, manipulasi penggunaan uang rakyat, hingga penyalagunaan sumber daya alam yang semestinya dapat dikelola dengan optimal melalui pemberdayaan kepakaran kaum intelektual, malah berujung kesengsaraan rakyat dan generasi dalam bentuk ketergantungan bangsa ini terhadap produk luar negeri. Hal yang ironi karena bahan bakunya sangat surplus di Indonesia. Ini benar-benar kesalahan sistemik yang sulit diselesaikan, kecuali dengan metode sistemik pula.
Karenanya saat ini penting untuk melakukan reposisi peran intelektual. Reposisi untuk mengembalikan posisi mereka sebagaimana yang diajarkan Islam yakni sebagai pembimbing dan pemersatu umat untuk mewujudkan bangsanya yang besar, kuat dan terdepan dalam naungan khilafah Islam, bukan mengabdi pada bangsa lain. Umat membutuhkan peran intelektual yang sanggup membimbing mereka. Intelektual yang mampu memetakan potensi dan memberi solusi yang benar untuk memecahkan berbagai persoalan umat. Umat membutuhkan intelektual yang sanggup berdiri di hadapan para penjajah untuk membela mereka dengan pengetahuan yang benar. Intelektual yang berjuang mengembalikan SDAE ke tangan umat dan memelihara kesatuan mereka dalam negara yang kuat yakni khilafah. Umat membutuhkan intelektual yang berani berkorban, berani mengungkapkan kebenaran. Umat membutuhkan intelektual sejati yang memahami ideologi Islam dan menanamkannya ke tengah-tengah umat. Merekalah Intelektual sejati (ulul albab) yang akan menghentikan penjajahan (non fisik) hari ini untuk menyelamatkan generasi sekarang dan di kemudian hari. Seorang intelektual muslim bisa mereposisi perannya menjadi intelektual sejati, maka ada tiga hal yang harus senantiasa melekat pada dirinya:
1. Memiliki kepakaran/keahlian tertentu sesuai dengan bidang yang dikuasainya
2. Memahami realita kehidupan yang ada di tengah-tengah masyarakat. Apa sesungguhnya persoalan-persoalan yang terjadi, mengurainya hingga bisa dipahami akar permasalahan yang sesungguhnya. Untuk itu dia harus memiliki metode berfikir yang benar, yang dia gunakan untuk memahami realitas sesungguhnya, yaitu metode berfikir aqliyah (rasional). Sebaliknya, sekalipun arus di dunia intelektual mengajarkan untuk menjadikan metode berfikir ilmiah sebagai satu-satunya metode berpikir, seorang intelektual muslim sejati akan tetap bisa menempatkan metode berfikir ilmiah sesuai dengan porsinya yang tepat.
3. Memahami ideologi Islam sebagai sumber solusi yang dia gali untuk menyelesaikan semua jenis problematika masyarakat yang dihadapinya. Sehingga pemikiran/ konsep yang disampaikannya tidaklah bersifat praktis dan bertarget pragmatis saja. Tapi harus sampai pada tataran ideologi yang akan membentuk sistem. Dengan kata lain, seorang intelektual muslim haruslah senantiasa ideologis, tidak a-politis, dan tidak membatasi pemikirannya pada satu kebidangan/kepakaran tertentu saja.
Wallahu A’lam bis Showab
Wahai Pemuda, Mengapa Engkau Tak Mengikuti Jejaknya???
Suatu hari ada seorang pemuda yang gelisah memikirkan kondisi masyarakatnya yang jahiliyah, mereka disebut jahiliyah karena tidak menggunakan akalnya untuk berpikir tentang kebenaran. penguasa ditempat itu terbiasa menindas rakyat, sistem ekonomi yang mereka jalankan adalah sistem ekonomi riba, mengurangi timbangan or kecurangan adalah pekerjaan mereka, doyan mabuk-mabukan, pelecehan terhadap perempuan terjadi dimana-mana, bayi perempuan dianggap aib sehingga mereka menguburnya hidup-hidup, tawuran, bahkan perang udah biasa demi arogansi kekuasaan dan motivasi untuk menumpuk harta. kalau kita perhatikan kondisinya tidak jauh beda dengan kondis saat ini bahkan mungkin kondisi saat ini lebih garang dan ganas.
segudang pertanyaan dalam benaknyapun muncul, akan dibawa kemanakah masyarakat ini????? ia berusaha memecahkan dan mencari jawabannya, langkah awal yang ia ambil adalah menyepi di sebuah GUA, menjernihkan pikiran dan perasaan, dan berusaha menajamkan kedekatannya pada sang pencipta alam semesta, kehidupan dan manusia. Alhamdulillah dalam diri pemuda ini muncul kesadaran untuk mengatur urusan masyarakat dengan berlandaskan pada aturan TUHAN. Akhirnya pada suatu malam yang hening jawaban itupun datang untuk menghilangkan kegelisahan yang selama ini terpendam.
IQRA !!!!!! namun pemuda itu menolak karena ia tidak bisa membaca, kemudia diulang sampe tiga kali.
Wahai kawan..Inilah awal dari semunya, inilah penanda perubahan zaman itu udah didepan mata.
Dia mengajak orang yang paling dekat dengannya, yupzz Istri tercintanya, kemudian keluarga besarnya untuk menjalani dunia baru dengan Risalah yang ia bawa. Akhirnya terbentukklah sebuah KUTLAH yang anggotangya terdiri dari para pemuda dan orang tua, semakin hari KUTLAH ini semakin membesar bersama opini yang dibawanya bagaikan bola salju yang terus menggelinding yang tidak bisa di bendung lagi, akibatnya menanamkan ketakutan yang luar biasa bagi penguasa STATUS QUO.
Penguasa status quo inipun tidak ambil diam mereka segera menggencarkan Fitnah, caci maki, penganiayaan bahkan pembunuhan. Disamping itu para penguasa inipiun menawarkan kekuasaa, harta, dan wanita agar pemuda ini berhenti menyampaikan petunjuk TUHAN kepada Masyarakat, Namun peumuda ini dengan tegas menolak, dia tidak mau bergabung dengan sistem rusak yang eksis. Dia mengatakan "seandainya matahari diletakkan ditangan kananku dan bulan ditangan kiriku sungguh aku tidak akan melepaskan dakwah ini sampai Allah memenangkannya atau aku mati karenanya". Luar biasa jawabannya atas tawaran itu.
Pertolongan Tuhannya pun datang, Kutlah baru ini mendapatkan kepercayaan untuk memimpin sebuah masyarakat yang haus akan petunjuk Tuhan yang akan mengantarkan mereka pada kesejahteraan., Yupzzz Tepatnya di Madinah. kota ini menjadi kota baru dan kehidupan baru.
Akhirnya Madinah yang dulu adalah kota kecil menjadi benih sekaligus pusat perdaban baru yang mengatasi peradaban Romawi dan Persia, dan terus menyebar keseluruh dunia dengan kehidupan baru dibawah kerinduan akan Allah SWT dan Rasulullah SAW hingga menguasai 2/3 dunia selama kurang lebih 13 abad.
PEMUDA ITU ADALAH MUHAMMAD BIN ABDULLAH.
PERTANYAANNYA WAHAI PEMUDA YANG GELISAH AKAN KETERPURUKAN BANGSA KITA SAAT INI, MENGAPA KITA TIDAK MENGIKUTI JEJAK BELIAU?????????????????????????????
Subscribe
Powered By
Blogger Template From:
Free Blogger Skins
Senin, 02 Januari 2012
MEWUJUDKAN PROFIL MUSLIMAH INTELEKTUAL SEJATI
Silahkan Tinggalakan Pesan....
Kekhawatiran dari seorang Non Muslim
Aku perhatikan wajahnya mulai tadi murung, tidak ada keindahan yang menaunginya pasca peristiwa itu. Bagaimanapun aku merasa, akulah yang paling bertanggung jawab untuk menyelesaikan persoalan ini, bukankah aku yang telah memulainya maka akupun yang harus menyelesaikannya. Cantik..begitulah panggilanku sehari2 kepadanya, yachh itulah panggilan sayang kami. Dia pun menoleh, wow tatapan matanya membuatku jiwaku melayang mungkin karena aku terlanjur sayang. “Entahlah”, begitu jawabnya ketika aku bertanya, “bagaimana kabarmu??”. Fira sudah cerita semuanya, maafkan aku jika kejadian itu membuatmu tersinggung, sungguh semua ini semata-mata karena keyakinanku pada mabda’ ini (islam) yang telah mendarah daging dan menjadi denyut dalam setiap detak jantungku, aku yakin ini benar dan aku ingin kamu mengetahuinya. Ginapun menatapku dan mencoba mengeluarkan suara ,“ Zah.. kau tidak perlu merasa bersalah karena kau tak pantas untuk disalahkan, justru aku bangga punya sahabat dan saudara sepertimu, bagiku kau adalah orang yang luar biasa.Terkait dengan perubahan sikapku emang ada kaitanya dengan peristiwa itu karena sampe saat masih menancap dalam benakku apa yang disampaikan oleh narasumber dari jakarta itu. Khususnya ketika dia menjelaskan tentang penerapan syariah islam secara totalitas, sebenarnya sejak lama aku sangat khawatir dengan ide itu Zah...sumpah !!
Aku tatap matanya dan aku pegang tangannya dengan erat, aku mulai berceloteh mencoba menjawab kekhawatirannya. Aku sangat memahami akan kekhawatiranmu jika umat islam berhasil menegakkan khilafah Islamiyah yang menerapkan islan secara kaaffah diseluruh aspek kehidupan. Kemudian kalian merasa bahwa kalian akan di marginalkan. “Begitu kan Gin kekhawatiranmu selama ini???”. Ginapun mengangguk kemudian menunduk. Kemudian akupun melanjutkan celotehku. Sebenarnya kekhawatiranmu ini karena kamu belum memahami islam itu sebagai mabda’. Orang – orang kristen, Budha, Hindu dan agama lain sudah terbiasa hidup dibawah mabda’ lain. Bukankah saat ini kita hidup dibawah sistem kapitalis-sekuler, begitupun mereka, buktinya mereka bisa, lalu kenapa mereka tidak mau hidup dibawah mabda’ Islam..?????
Dulu ketika Islam diterapakan tepatnya di Andalusia dalam kehidupan “hegemoni tiga agama”, umat Yahudi dan Kristen merasa nyaman, tenang dan sejahtera hidup dibawah Khilafah Islam. Bahkan mereka lebih memilih hidup dibawah khilafah islam ketimbang hidup dibawah pemerintah yang tidak diatur dengan islam. Gina seakan tidak berkedip menatapku, tatapannya penuh makna yang tak bisa aku urai. “Ketika Islam diterapkan apakah kami akan dipaksa masuk Islam,tempat ibadah kami ditutup, kami tidak boleh makan babi, minum-minuman beralkohol, dan kamipun akan dipaksa berpakaian sama sepeti yang pakaiamu saat ini Zah ???” begitulah Gina seakan-akan dia menyerangku dengan segudang pertanyaannya yang lahir dari rahim ke khawatirannya selama ini. Gina adalah sahabatku yang berbeda keyakinan denganku, dia beragama Kristen mengikuti kedua orang tuanya. Walaupun dia sendiri tidak pernah menemukan jawaban kenapa kedua orang tuanya menganut agama Kristen sedangkan keluarga besarnya baik dari pihak ayah maupun Ibu adalah muslim sejati. Salah satunya saya, heheh..narsis, ya dong klo g narsis ntar g eksis..
Sebelum aku menjawab pertanyaannya, aku hela nafas dalam-dalam kemudian aku keluarkan perlahan. “ Gin, ketika islam diterapkan apa yang kamu khawatirkan itu tidak akan pernah terjadi. Islam menjamin hak-hak kalian dan memberikan keistimewaan kepada kalian. Yaitu jaminan kebebasan beragama. Kalian dijamin untuk tetap memeluk agama semula, dan tidak boleh dipaksa. Allah SWT berfirman: "Tidak ada paksaan dalam memeluk agama Islam." (TQS al-Baqarah [2]: 256). begitupun dengan tempat-tempat ibadah kalian, Islam sangat menghormati itu. Jangankan pada masa damai pada saat terjadi perangpun gereja tidak boleh dijadikan obyek perang”. Aku belum selesai bicara Gina langsung menyambar, “ Bagaimana dengan kejadian gereja yasmin?? Kenapa orang Islam tidak menghendakinya??”.
Bersambung......................


